Albus Percival Wulfric Brian Dumbledore merupakan salah satu tokoh dalam serial novel ciptaan J. K. Rowling sebagai Kepala Sekolah Sihir Hogwarts. Ia merupakan seorang ahli sihir yang bijaksana dan paling dihormati di dunia Sihir. Ia berperan sebagai pembimbing atau penasihat tokoh utama, Harry Potter sebagaimana konsep perwatakan Merlin atau Gandalf. Ia selalu mengambil berat terhadap Harry Potter dan memberikan dorongan kepada Harry lebih dari yang lain. Ini karena kepercayaan beliau yang Harry adalah satu-satunya yang diharapkan untuk membasmi Lord Voldemort walaupun dialah satu-satunya yang ditakuti ahli sihir jahat itu.
Dalam versi
film, seri Harry Potter and the
Sorcerer's Stone (2001) dan Harry Potter and the
Chamber of Secrets (2002), diperankan oleh mendiang Richard Harris yang meninggal pada 2002 disebabkan penyakit Hodgkin. Untuk film Harry Potter and the
Prisoner of Azkaban (2004) dan Harry Potter and the Goblet of Fire (2005) pula, Michael Gambon memerankan tokoh Dumbledore dengan gaya
yang berlainan dan lebih unik.
Albus
Dumbledore dilahirkan pada tahun 1881 dan merupakan anak dari Percival Dumbledore dan Kendra Dumbledore. Tiga tahun setelah ia dilahirkan, adiknya, Aberforth Dumbledore lahir, dan setelahnya lahir adik
perempuan keduanya, Ariana Dumbledore. Tiga anak-anak Muggle
menyerang Ariana saat ia berumur 6 tahun karena mereka melihatnya menggunakan
sihir. Akibat dari serangan itu, ia menderita sakit seumur hidupnya. Ayah
Dumbledore, Percival, menyerang ketiga Muggle itu sebagai balasan atas penyerangan
mereka terhadap putrinya, dan ia dipenjarakan di Azkaban seumur hidup. Untuk menghindari Ariana dibawa ke Rumah Sakit St.Mungo, Kendra memindahkan keluarga mereka ke Godric's Hollow. Para
tetangga mereka mengira Ariana adalah seorang Squib.
Saat
Albus memasuki Hogwarts, ia berteman dengan Elphias Doge yang
banyak diejek oleh orang-orang karena baru saja sembuh dari cacar naga. Di Hogwarts,
Dumbledore dianggap sebagai murid paling cerdas yang pernah memasuki Hogwarts.
Ia memenangkan banyak sekali penghargaan dan mempunyai banyak teman yang saat
ini menjadi penyihir-penyihir terkenal. Tulisan-tulisannya banyak dimuat di Transfiguration
Today, Challenges in Charming, dan The Practical Potioneer.
Ia adalah seorang Gryffindor.
Informasi ini diberikan kepada Harry Potter oleh Hermione Granger pada saat mereka berada di Hogwarts Express dalam film Harry Potter and the Sorcerer's Stone.
Tiga
tahun setelahnya, Aberforth masuk Hogwarts. Adiknya itu terbukti agak berbeda
dari Albus, karena tidak menguasai bakat sihir luar biasa seperti kakanya. Hal
ini terlihat sejak di tahun kelima Harry bersekolah, menjelang ujian O.W.L
(Ordinary Wizarding Levels). Pada saat itu, Griselda Marchbanks, Kepala Wizarding
Examinations Authority-Kekuasaan Pengujian Sihir, mengatakan bahwa Dumbledore
telah "....melakukan hal-hal dengan tongkat sihir yang tidak pernah
kulihat sebelumnya". Saat Dumbledore dan Doge meninggalkan Hogwarts,
mereka berencana untuk melakukan perjalanan keliling dunia. Di tengah-tengah perjalanan
mereka, Dumbledore yang pada saat itu berumur 18 tahun tertimpa musibah
kematian ibunya, yang dibunuh oleh Ariana yang sedang 'kumat'.
Karena
ketidakhadiran orang tua Dumbledore (ayahnya dipenjara, sedangkan ibunya
meninggal), Albus menjadi kepala keluarga tersebut, dan menjadi kewajibannya
untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Ini merupakan hal yang berat bagi
Dumbledore, mengingat orang tuanya tidak meninggalkan banyak emas. Ia dipaksa
harus tinggal di rumah dengan Ariana ketika Aberforth menjalani pendidikannya
di Hogwarts. Kemudian, Gellert Grindelwald muda tiba di Godric's Hollow
dengan bibinya, Bathilda Bagshot,
pengarang buku A History of Magic--Sejarah Sihir. Dumbledore muda berteman
dengan Grindelwald dan mereka berdua mempunyai keinginan untuk menguasai dunia
"untuk kebaikan yang lebih besar" dengan cara menyatukan Relikui
Kematian yang legendaris.
Kedua
penyihir itu berpendapat bahwa dunia sihir harus berkuasa atas para Muggles.
Meskipun mereka harus menghancurkan beberapa penyihir dalam perjalanan mereka
menuju misi tersebut, mereka akan menganggapnya "untuk kebaikan".
Tapi, sebuah diskusi antara Albus, Aberforth, dan Grindelwald memimpin mereka
ke sebuah duel yang menyebabkan kematian Ariana. Dalam sisa hidupnya,
Dumbledore merasa bersalah, karena tidak pernah bisa memastikan apakah
kutukannya atau hal lain yang menyebabkan kematian Ariana.
Grindelwald
kemudian meninggalkan rumah Bagshot dan memulai misinya. Sementara itu, dalam
pemakaman Ariana, Aberforth sangat marah kepada Dumbledore dan meninju hidung
Dumbledore, mematahkannya, yang membuat hidungnya terlihat bengkok sekarang.
Karena kematian Ariana tersebut, Albus merasa tidak dapat dipercaya dalam
menghadapi hal-hal yang besar yang membuatnya tidak pernah mengambil tempat
sebagai Menteri Sihir.
Dumbledore kemudian kembali ke Hogwarts sebagai guru Transfigurasi, dan
kemudian diangkat menjadi Kepala Sekolah Hogwarts, menggantikan Armando Dippet.
Dumbledore
akhirnya berhasil mengalahkan Grindelwald, yang telah menjadi penyihir hitam,
yang memiliki Tongkat Elder. Setelah mengalahkannya, Dumbledore menjadi pemilik
Tongkat Elder berikutnya, bahkan setelah ia meninggal.
Salah satu
tugas Dumbledore sebagai guru di Hogwarts adalah mencari dan menawarkan tempat
di Hogwarts kepada Tom Marvolo Riddle. Ketika Dumbledore
terkagum-kagum dengan kemampuan Riddle, ia mendapat masalah karena Riddle tidak
pernah mempercayai Dumbledore sepenuhnya. Satu tahun kemudian, Riddle mencoba
untuk mendapatkan tempat sebagai guru di Hogwarts. Namun, Dumbledore meyakinkan
kepala sekolah saat itu, Armando Dippet, untuk menolak permohonan Riddle. Ia
sendiri juga menolak permohonan Riddle yang kedua beberapa tahun kemudian, saat
ia menjabat sebagai kepala sekolah. Sejak saat itu, Riddle menyatakan perang
dengan mantan pengajarnya, dan mengadopsi sebuah nama yang akan menjadi
menakutkan dalam semua hati penyihir di dunia sihir tahun-tahun mendatang: Lord
Voldemort.
Untuk
melawan Voldemort, Dumbledore mendirikan sebuah organisasi yang diberi nama Orde Phoenix. Dalam perkembangan Voldemort, anggota Orde selalu
bertarung melawan pengikut Voldemort, Pelahap Maut dan pengikut-pengikut lainnya. Dalam pertempuran
tersebut, Orde menderita kekalahan yang diikuti dengan meninggalnya beberapa
anggota Orde, dan salah satunya adalah suami-istri Potter. Sebelum kematian mereka, Dumbledore meminta
mereka untuk memperlihatkan Jubah Gaib yang dicurigai sebagai salah satu dari
Relikui Kematian. Saat James meninggal, Dumbledore memutuskan untuk menyimpan
jubah tersebut, dan memberikannya kepada putra James, Harry Potter.
Saat
orang tua Harry terbunuh dan kekuatan Voldemort menghilang, pemindahan Harry ke
rumah Vernon dan Petunia Dursley, paman
dan bibinya yang merupakan satu-satunya kerabatnya yang masih hidup, adalah
keputusan Dumbledore. Ia mengetahui bahwa Harry telah diberi perlindungan sihir
khusus yang berasal dari pengorbanan ibunya, dan karena Petunia Dursley
menerima Harry di rumah mereka, sihir itu telah tertanam di rumah keluarga
Dursley. Sihir lama yang berasal dari cinta ibunya kepada Harry ini, membuat Harry
tidak dapat disentuh oleh Voldemort.
Di awal
dari seri Harry Potter, tepatnya di Harry Potter dan Batu Bertuah, Dumbledore tiba di Privet Drive nomor
empat di Little Whinging,Surrey, untuk
meninggalkan bayi Harry di ambang pintu kediaman keluarga Dursley dengan sebuah
surat yang menjelaskan situasi saat itu. Ia pergi dengan kata-kata terakhir,
"Semoga berhasil, Harry".
Saat
Harry tiba di Hogwarts, Dumbledore memberitahu Harry tentang rahasia Cermin
Tarsah yang jika ia melihat cermin tersebut, ia melihat dirinya "memegang
sepasang kaos kaki wol tebal." Ternyata, ia sendiri, seperti Harry,
melihat keluarganya hidup dan bersatu. Pada malam ketika Quirinus Quirrel, Harry, Ron Weasley, dan Hermione Granger memasuki ruang bawah tanah untuk mendapatkan Batu
tersebut, Dumbledore sedang dipanggil oleh Kementrian Sihir oleh
surat yang salah, tapi ia kemudian menyadari bahwa ia diperlukan di Hogwarts
dan ia kembali untuk menyelamatkan Harry dari Quirrell dan Voldemort. Ia juga
melakukan percakapan terakhir dengan Harry setelah kejadian tersebut dan
mengatakan bahwa ia terlalu muda untuk mengetahui alasan Voldemort ingin
membunuhnya.
Di Harry Potter dan Kamar Rahasia, Dumbledore mencurigai bahwa Tom Riddle terlibat
dalam penyerangan terhadap murid-murid, saat ia menjawab, "bukan masalah
siapa, tapi bagaimana?", ketika ditanya siapa pelaku penyerangan tersebut.
Dumbledore yang lebih muda terlihat di buku harian Riddle, ketika Harry melihat
memori Tom Riddle, dan bertanya apakah ia mengetahui sesuatu tentang
penyerangan murid-murid. Dalam separo bagian akhir, Lucius Malfoy membujuk
(atau bisa dibilang mengancam) kesebelas dewan sekolah untuk mencabut posisi
Dumbledore sebagai Kepala Sekolah karena terjadi penyerangan oleh basilisk di
sekolah saat Kamar Rahasia dibuka. Para dewan mengembalikan
lagi posisi Dumbledore saat mereka mengetahui bahwa Ginny Weasley dibawa ke Kamar Rahasia dan Lucius terbukti
memaksa para dewan untuk menyingkirkan Dumbledore.
Di
permulaan Harry Potter dan Tawanan Azkaban, Dumbledore terpaksa menerima para dementor di
luar sekolah mereka demi perlindungan murid-murid Hogwarts dari Sirius Black, seorang yang dituduh membunuh yang melarikan diri
dari Azkaban. Setelah Black berhasil menembus Hogwarts, Dumbledore
memerintahkan untuk menutup seluruh pintu masuk ke dalam sekolah. Setelah Harry
jatuh dari sapunya pada saat pertandingan Quidditch karena dementor, Dumbledore
menjadi sangat marah pada mereka dan menggunakan tongkatnya untuk mendaratkan
Harry dengan selamat ke tanah. Di bagian akhir buku, Dumbledore menyarankan
Hermione memakai Pemutar Waktu miliknya tanpa sepengetahuan Kementrian untuk
kembali ke tiga jam yang lalu untuk menyelamatkan Buckbeak si Hippogriff dan Sirius sebelum mereka tereksekusi.
Di seri
keempat, Harry Potter dan Piala Api, Dumbledore memperkenalkan Turnamen Triwizard. Ia juga menjadi juri selama even tersebut
berlangsung. Di buku, saat nama Harry keluar dari Piala Api, Dumbledore tidak
terkejut dan tetap tenang, dan bertanya pada Harry apakah ia sendiri atau murid
lain yang lebih tua yang ia suruh yang memasukkan namanya ke dalam Piala Api.
Saat Harry menjawab tidak, ia percaya padanya. Tidak seperti di buku, di film,
Dumbledore (yang diperankan oleh Michael Gambon) terlihat marah dan bahkan
menggoncangkan Harry saat ia bertanya padanya.
Di akhir
buku, ketakutan Dumbledore terjawab saat Harry kembali dari pertempurannya
melawan Voldemort membawa mayat Cedric Diggory dan saat Alastor Moody (yang sebenarnya adalah Barty Crouch Junior yang menyamar dengan menggunakan
Ramuan Polyjuice) mengambil Harry dari Dumbledore dan membawanya ke dalam
kantornya. Dumbledore langsung curiga dan pergi menuju kantor Moody dengan Minerva McGonagall dan Severus Snape untuk menyelamatkan Harry dan menginterogasi
Crouch. Kemudian, Dumbledore mendengarkan kesaksian Harry tentang kembalinya
Voldemort. Harry kemudian mengetahui bahwa Cornelius Fudge, Menteri Sihir sedang
berdebat dengan Dumbledore dan McGonagall. Di akhir cerita, Fudge dan
Dumbledore "berpisah jalan" setelah perdebatan tentang kembalinya
Voldemort dan akibat-akibat yang akan terjadi jika Fudge tetap membiarkan hal
itu.
Di Harry Potter dan Orde Phoenix, Dumbledore diturunkan pangkatnya yang semula
adalah Hakim Ketua Wizengamot, dikeluarkan dari kedudukannya sebagai Ketua
Konfederasi Penyihir Internasional, dan ia juga kehilangan Order of Merlin
Kelas Satu, akibat dari pidatonya tentang kembalinya Voldemort. Sementara itu, Kementrian Sihir
melakukan segala cara untuk memojokkan Dumbledore dan Harry, sebagian besar
melalui Daily Prophet. Di awal
cerita, Dumbledore memancing kemarahan Fudge saat ia hadir di sidang Harry
dengan membawa saksi (Arabella Figg) untuk memastikan bahwa ia tidak
dikeluarkan. Namun, Harry merasa sangat marah karena Dumbledore tidak pernah
menatapnya, apalagi berbicara kepadanya.
Di
Hogwarts, Kementrian mengeluarkan Dekrit Pendidikan Nomor Dua Puluh Dua, yang
memperbolehkan Fudge untuk menempatkan Dolores Umbridge (setelah Dumbledore gagal mencari kandidat yang
tepat) sebagai guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam. Melalui Umbridge, Fudge
perlahan-lahan menambah kekuatannya di Hogwarts. Ia juga mengawasi Dumbledore
secara ketat, karena ia takut Dumbledore sedang mendirikan laskar penyihir
dibawah umur untuk melawan Kementrian. Dolores melarang semua praktek latihan
pertahanan di kelasnya yang memaksa Harry, Ron, dan Hermione mendirikan Laskar Dumbledore dengan beberapa teman-teman mereka. Saat diketahui
oleh Kementrian, Dumbledore berkata bahwa ialah yang menyuruh Harry membentuk
organisasi tersebut, yang membuatnya kehilangan jabatannya sebagai kepala
sekolah (lagi).
Dumbledore
tidak terdengar lagi di buku sampai ia tiba di Departemen Misteri untuk bergabung dengan Orde dalam pertarungan
melawan Pelahap Maut. Ia kemudian menyelamatkan Harry
dari kutukan Avada Kedavra yang dilancarkan oleh Voldemort dan berduel dengan
Pangeran Kegelapan. Setelah Voldemort ber-Dissaparate, Dumbledore memberitahu
Fudge tentang apa yang terjadi dan menduduki kembali jabatan sebagai kepala
sekolah dan mendapatkan kembali semua gelar-gelarnya. Di akhir cerita,
Dumbledore memberi tahu Harry bahwa Voldemort memilihnya sebagai saingannya dan
mereka berdua harus saling membunuh pada akhirnya.
Di Harry
Potter dan Pangeran Berdarah-Campuran, Dumbledore menjemput Harry dari Privet
Drive untuk membujuk Horace Slughorn untuk bergabung dengan staf Hogwarts.
Tangan kanannya, seperti yang diperhatikan Harry, terlihat hitam dan berkerut.
Pada saat tahun ajaran, Dumbledore bertemu dengan Harry di kantornya untuk
mengajarinya tentang masa lalu Voldemort karena ia memberitahu Harry bahwa hal
itu sangat penting. Melalui pelajaran tersebut, mereka mengunjungi
pikiran-pikiran orang lain, yang mengandung informasi-informasi penting bagi
Voldemort. Harry mempelajari bahwa Voldemort membuat enam Horcrux untuk mendapatkan keabadian dan Horcrux-Horcrux
tersebut harus dihancurkan sebelum Harry menghancurkan bagian terakhirnya yang
terdapat di dalam tubuh Voldemort. Harry juga berulang-ulang memberitahu
Dumbledore bahwa murid lain, Draco Malfoy, bekerja untuk Voldemort. Dumbledore menolak untuk
melakukan tindakan pada Draco, dan berkata pada Harry bahwa ia lebih mengerti
apa yang sedang terjadi daripada Harry.
Di akhir
buku keenam, Dumbledore dan Harry pergi ke gua yang dipercayai adalah tempat
Voldemort menaruh Horcruxnya. Di gua tersebut, Dumbledore meminum sebuah ramuan
di tempat dimana Horcrux tersebut berada; saat meminumnya, ia mulai berteriak,
terlihat mengalami penyiksaan mental dan melemah. Setelah para Inferi mencoba
menangkap dan menjatuhkan Harry ke dalam danau es yang dalam, Dumbledore
tiba-tiba sembuh dan menyihir jerat api di sekitar mereka. Dumbledore mengambil
liontin Horcrux bersamanya dan keluar dari gua tersebut dan kembali ke Hogsmeade. Saat
mereka kembali, Madam Rosmerta memberitahu mereka bahwa Tanda Kegelapan
terlihat di atas Menara Astronomi dan
Dumbledore serta Harry bersama-sama menuju Menara Astronomi melalui sapu
Rosmerta. Di atas menara, Dumbledore berbicara tentang rencana Draco Malfoy
untuk membunuhnya. Beberapa Pelahap Maut lain memasuki menara dan membujuk
Malfoy untuk membunuh Dumbledore. Saat Malfoy tidak bisa membunuhnya, Snape muncul
dan langsung melancarkan Kutukan Avada Kedavra pada Dumbledore.
Di buku
terakhir, diungkapkan bahwa Dumbledore membuat kesalahan besar dengan memakai
cincin terkutuk di tangan kanannya, pada buku kelima atau keenam, dan melupakan
kutukan yang terdapat pada cincin itu. Cincin itu menyimpan Batu Kebangkitan,
yang diharapkan Dumbledore dapat memperbolehkannya untuk meminta maaf kepada
orang tuanya dan adiknya. Severus Snape dipanggil oleh Dumbledore untuk mengangkat kutukan
itu pada malam itu. Dumbledore tahu bahwa hidupnya hanya tinggal sebentar lagi.
Saat itulah Dumbledore meminta Snape untuk, pada saat yang tepat, membunuhnya,
yang menurutnya "lebih terhormat". Severus setuju, karena ia berkata
bahwa ia akan melakukan apa saja untuk Dumbledore.
Sesaat
setelah kematiannya, lukisan Dumbledore tiba-tiba muncul di kantor Kepala
Sekolah. Pemakamannya dihadiri oleh murid-murid, staf dan pengajar Hogwarts,
anggota Kementrian Sihir, para hantu, centaur, dan para duyung, serta semua
orang yang menghormatinya. Dibungkus dengan kain beludru ungu, ia dikubur di
sebuah peti marmer putih di sebelah danau di Hogwarts, dan ia adalah
satu-satunya Kepala Sekolah yang dikubur di sekolah. Saat penguburannya, Fawkes
menyanyikan lagu dukacita, meratapi kematian pemiliknya.
Rowling
menggunakan beberapa bab di Harry Potter dan Relikui Kematian untuk mengungkapkan dua hal utama tentang
Dumbledore: kehidupan awalnya dan kematiannya. Setelah muncul beberapa cerita
tentang masa kecil Dumbledore dan naiknya Dumbledore sebagai Kepala Sekolah
Hogwarts, Harry mulai meragukan Dumbledore yang dia ketahui. Saat ia merasa
frustasi, ia sering marah pada Dumbledore karena membuat pencariannya akan
Horcrux-Horcrux menjadi sulit dan karena tidak menyediakan informasi yang
cukup. Harry akhirnya belajar kesulitan-kesulitan sebenarnya yang dialami Dumbledore
pada masa mudanya melalui Aberforth dan Albus sendiri.
Dumbledore
muncul untuk terakhir kalinya kepada Harry Potter di akhir buku, setelah Harry
diserang kutukan membunuh. Rowling menggunakan percakapan itu untuk mengungkap
kebenaran dari hubungan antara Voldemort dan Harry. Harry kemudian mengakui
segala kekecewaannya pada Dumbledore. Dumbledore lalu memberitahu Harry bahwa
ia masih punya pilihan; menjalani kehidupan selanjutnya atau kembali ke
tubuhnya yang lama untuk menghadapi Voldemort untuk terakhir kalinya. Setelah
mengalahkan Voldemort, Harry melakukan percakapan singkat dengan lukisan
Dumbledore di kantor Kepala Sekolah tentang nasib masing-masing dari ketiga Relikui Kematian. Di epilog cerita, terungkap bahwa Harry menamai
putra keduanya Albus Severus Potter, yang berasal dari nama
Dumbledore dan Snape.
Di buku,
Dumbledore digambarkan sebagai seorang penyihir klasik; tinggi dan kurus,
dengan rambut panjang keperakan. Ia memiliki mata biru, hidung yang mancung dan
bengkok, dan jari-jari yang panjang. Ia mengenakan kacamata bulan-setengah. Ia
pernah dikatakan memiliki bekas luka diatas lututnya yang penyebabnya tidak
diketahui. Menurut alur cerita Harry Potter, Dumbledore lahir pada tahun 1881
dan meninggal pada tahun 1997, yang berarti ia berumur 116 tahun. Ia biasanya
terlihat mengenakan jubah panjang dengan berbagai warna dan motif yang biasanya
bermotif bulan dan bintang.
Dalam
seri-seri Harry Potter, Dumbledore tidak mementingkan "kemurnian
darah" dan percaya bahwa pilihan setiap individu mencerminkan karakter
setiap orang, ia berkata, "masalahnya bukan bagaimana seseorang lahir,
tapi orang seperti apakah mereka pada saat mereka besar". Voldemort
menganggap Dumbledore sebagai "pahlawan bagi para Darah Lumpur dan
Muggle". Tidak seperti penyihir lain, Dumbledore tidak takut untuk
mengatakan nama Voldemort (dan mencoba membujuk orang lain untuk memanggilnya
menggunakan nama Voldemort pada saat pertempuran pertama) dan memanggilnya
"Tom" saat berdebat dengannya.
Beberapa
karakter dalam buku sering menganggap kelemahan terbesarnya adalah kemauannya
untuk mempercayai orang-orang yang menurut orang lain tidak bisa dipercaya. Ia
terlihat mempunyai selera humor yang bagus. Ia sangat sabar, dan selalu tenang.
Ia juga selalu sopan terhadap siapa saja, bahkan terhadap musuh-musuhnya. Ia
adalah seorang pecinta musik.Selain seorang penyihir yang cerdas dan bijaksana,
ia juga adalah seorang yang eksentrik.
Di usia
muda, Dumbledore selalu memperlihatkan kemampuan sihir yang sangat hebat dan di
ujian N.E.W.Tnya, "...melakukan hal-hal dengan tongkatnya yang tidak
pernah dilihat (oleh para penguji) sebelumnya".
Dumbledore
juga seorang ahli kimia yang bekerja dengan Nicolas Flamel, pembuat Batu Bertuah, dan ia juga menemukan dua belas kegunaan darah
naga. Ia dapat membuat patronus, yang berbentuk phoenix. Ialah yang menemukan
metode pengiriman pesan ke orang lain melalui Mantra Patronus, kemampuan yang
hanya diajarkannya kepada anggota Orde Phoenix.
Ia juga
dapat menciptakan api Gubraithian (api sihir abadi). Ia juga mengklaim bahwa ia
dapat menjadi tidak terlihat tanpa perlu menggunakan Jubah Gaib. Dumbledore
juga memiliki kemampuan dalam Occlumency dan Legilimency. Dumbledore juga
seorang ahli transfigurasi (mengingat ia merupakan guru transfigurasi sebelum
menjadi Kepala Sekolah). Di Harry Potter dan Orde Phoenix, Dumbledore
mentranfigurasi ribuan potongan kaca menjadi pasir dalam sekejap. Ia dapat
berbicara Mermish, Gobbledegook, dan ia mengerti Parseltounge. Nama
lengkap Dumbledore adalah Albus Percival Wulfric Brian Dumbledore. Nama
"Dumbleodore" berarti "lebah madu" yang berasal dari bahasa
Devon kuno. Kata ini dipilih Rowling karena ia membayangkan Dumbledore
berjalan-jalan di dalam kastil dan berkata-kata pada diri sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih atas komentarnya....